Warisan Raden Saleh tetap hidup di Jerman



Pemberitaan terbitan Minggu, 4 Juli 2004

Raden Saleh Syarif Bustaman, kakek dari seni lukis modern Indonesia, adalah orang Jawa pertama yang pernah belajar di Eropa pada abad ke 19.

Setiap kota di Indonesia mempunyai jalan yang diberi nama sesuai dengan namanya, setiap orang Indonesia tahu namanya, meskipun sering kali hanya sebatas nama saja. Dia lebih dikenal karena pernah dikirim ke negara Belanda untuk mempelajari seni lukis dengan gaya Eropa.

Namun siapa yang mengetahui bahwa sebenarnya Raden Saleh menghabiskan banyak waktu di Jerman dan di Perancis, empat tahun diantara waktu tersebut dia tinggal di Dresden dan sekitarnya.

Hanya sedikit pula orang Indonesia yang  pernah  berwisata ke kota kecil Maxen, satu jam perjalanan dari Dresden, dimana musium setempat pernah mengadakan eksibisi pertama untuk mengenang  masa-masa dimana Raden Saleh pernah  tinggal di daerah Saxony. Banyak pula wisatawan Jerman yang juga tidak pernah mendengar bahwa seorang pelukis Jawa pernah tinggal di Jerman dari tahun 1839 sampai dengan tahun 1845.

 "Raden Saleh seharusnya diberi penghormatan dan penghargaan yang lebih besar dengan cara menyelenggarakan pameran eksibisi di musium besar di Dresden, Dusseldorf atau Berlin, namun tampaknya belum seorangpun berminat untuk mengaturnya”, kata Jutta Tronicke, yang membuat konsep eksibisi yang pernah diselenggarakan sampai dengan bulan Oktober 2004.

Untuk seorang Jawa pada masa kini, Maxen (dengan penduduk sebanyak 600 orang)  bisa terlihat sangat kecil. Desa ini, yang terletak di daerah pinggir Swiss Saxony, hampir belum terjamah oleh perubahan jaman.

Pada abad ke 14 diketahui bahwa tanah ini adalah  milik seorang kesatria. Pada saat Raden Saleh tiba di Dresden karena melarikan diri dari pejabat-pejabat kolonial Belanda, tanah ini dimiliki oleh Mayor Friedrich Anton Serre dan istrinya Friederika.

Beruntung dengan adanya spirit yang menggebu dari Keluarga Serre (Keluarga Serre mempunyai kastil yang sangat luas dekat Dresden. Mrs. Serre adalah pelindung dari karya seni pada saat itu), Maxen menjadi lokasi pertemuan bagi artis internasional yang sering berkunjung ke klub di Dresden, termasuk pencipta lagu Robert Schumann dan Franz Liszt, penyair Ludwig Tieck dan pengarang Denmark Hans-Christian Andersen.

Namun anggota yang paling eksotik kemungkinan besar adalah pelukis dari Jawa.

Cerita ini rupanya sangat menarik minat dari dua wanita yang tinggal di Maxen saat ini. Merekalah yang telah membantu untuk menyiapkan musium di kota kecil ini.

Walaupun tidak terdapat ruang yang mencukupi maupun dana untuk mendapatkan lukisan asli dari Raden Saleh untuk pameran di ruangan seluas 40 meter persegi, namun kedua wanita ini mengerahkan segenap perhatian dan minat mereka untuk  mengumpulkan serangkaian dokumen dari kisah kehidupan Raden Saleh di daerah Saxony yang meliputi beberapa photo, surat dan asesoris dari pelukis ini.

Pameran ini mengetengahkan cerita tentang latar belakang dari pahlawan seni Indonesia yang terkenal, namun detail dari dokumentasi yang dipamerkan sangat luar biasa, sehingga bahkan mahasiswa dari akademi seni rupapun belum pernah mempelajarinya.

Pangeran Raden Saleh telah menghabiskan 10 tahun kehidupannya di the Hague sebelum hijrah ke Saxony. Di kota di Belanda inilah murid Jawa ini memperoleh cara berpakaian parlente gaya Eropa dan mempunyai langganan penjahit, dokter dan took buku.

Ketika dia mempunyai hubungan asmara dengan beberapa wanita setempat, Pemerintah Kolonial mengirim tamu  yang merepotkan ini untuk perjalanan terakhirnya di Eropa, sebelum mengembalikannya ke Negara asalnya.

Namun, pelukis berbakat ini belum tertarik untuk kembali ke Jawa karena dia sangat menyukai kehidupannya sebagai artis yang bebas. Mengingat lukisan-lukisannya yang mengetengahkan perang dan perburuan binatang liar sangat terkenal pada masa itu, dia tidak membutuhkan dukungan keuangan dari pemerintah Belanda untuk membiayai kehidupannya.

Setelah melewati beberapa waktu di Dusseldorf dan Berlin, pelukis ini hijrah ke Dresden, dimana dia tidak lama kemudian diterima sebagai anggota dari klub dan lingkungan bangsawan yang berhubungan dekat dengan Raja dari Saxory dan dalam hal ini asal usul eksotiknyapun sangat membantu.

Secara pribadi dan bakat seni yang menunjukkan misteri oriental yang dimilikinya sangat sesuai dengan stereotype Eropa, yang mencakup antara Afrika Utara dan Timur Jauh, mendorongnya untuk membuat lukisan lukisan besar, gambaran fantastis termasuk lukisan terkenal tentang kuda yang diserang oleh 2 ekor singa dan seekor ular.

“Orang Eropa menganggap sulit untuk menggambarkan pergulatan dan pertempuran, karena sifat mereka bukan seperti itu. Oleh karena itu saya menganggap bahwa saya beruntung menjadi orang Asia,” tulis Raden Saleh disalah satu suratnya kepada Pemerintah Kolonial Belanda di tahun 1841.

Pergulatan antar binatang dan badai laut ternyata sangat disukai publik. Demikianlah rupanya bayangan dari orang-orang tentang kehidupan liar oriental ketika itu. Mengingat pada masa itu harimau banyak berkeliaran di pulau Jawa tidak banyak yang tahu bahwa orang Jawa ini hanya mengetahui  sedikit tentang kehidupan liar singa seperti juga layaknya orang Jerman, 

Selama tinggal di Dresden, Raden Saleh menemukan gaya lukis  yang kemudian dikembangkannya di Horace Vernet di Paris. Dia mempelajari kehidupan binatang di kandang kuda dan di kebun binatang serta peralatan perang di musium kerajaan, dimana dia menghabiskan banyak waktu disana. Dia sangat menyukai pemandangan sekitar Dresden, seperti formasi unik dari batu pasir di sungai Elbe Valley.

Namun alasan sebenarnya pelukis Jawa ini tinggal lama di Saxony dikarenakan adanya teman dan guru yang memberikan begitu banyak pengaruh terhadap kehidupannya terutama pengaruh dari keluarga Serre.

Perasaan ini tampak jelas pada pesan yang ditulis dalam Kitab Injil keluarga sebelum meninggalkan Maxen : “Ini adalah kenang-kenangan untuk Mayor Serre dan istrinya yang saya cintai dan hargai sebagai mana layaknya orang tua kedua saya”.

Raden Saleh dipercayai telah meninggalkan banyak lukisan potret dan pemandangan di Rumah Kediaman musim panas Keluarga Serre, namun kemudian hilang setelah Perang Dunia ke II atau disimpan sebagai koleksi pribadi.

Pada tahun 1844, Raden Saleh akhirnya menyerah pada keputusan Pemerintah Belanda dan meninggalkan Dresden, walaupun dia tidak langsung berangkat ke Paris, dan menghabiskan satu tahun lamanya di Coburg.

Bahkan sebelum ke Paris, dia kembali beberapa kali ke Dresden dan Maxen untuk menemui teman-temannya. Kunjungan terakhirnya adalah pada tahun 1848 ketika Mayor Serre membangun untuk menghormati Raden Saleh sebuah Mesjid Biru yang terkenal.

Tiga tahun kemudian, Raden Saleh kembali ke Jawa, namun dia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti halnya kehidupannya di luar negeri. Sebagai seorang pribumi yang telah terbiasa dengan tata cara kehidupan di Eropa, dia menjadi duri dalam daging dalam lingkungan penguasa Kolonial di Jawa.

Pada tahun 1875, Pangeran Raden Saleh kembali ke Eropa untuk kedua kalinya, kali ini bersama istri dan keponakan perempuannya. Alasan kunjungannya kali ini, yang berlangsung selama beberapa tahun, adalah untuk menemui keluarganya, keluarga Dr. Dr. H. George H. Hundeshagen, demikian pula kunjungan kepada sahabat lama dan pelindungnya Count Ernst II dari Sachse-Coburg dan Gotha. Kali ini dia tinggal di Schloß Rosenau (Rosenau Castle) dekat Coburg, agar bisa dekat dengan keluarganya.

Pangeran Raden Saleh – Contoh untuk masa kini

Apakah ada contoh dan idola yang lebih baik yang dapat menjembatani budaya dan menunjukkan adanya hubungan dekat tradisional dan hubungan dialogis antara Indonesia dan Jerman kecuali Raden Saleh ?

Kenangan yang tertinggal dari Raden Saleh yang terletak di kota kecil Maxen (dekat kota Dresden) di Jerman adalah Mesjid Biru yang terkenal, yang dibangun pada tahun 1848 sebagai penghormatan kepada beliau, tetap memperlihatkan adanya moto yang tidak pupus oleh jaman : “Muliakan Allah dan Cintailah sesama manusia” dalam tulisan tangan Jawa Kuno.

Disini, Pangeran Raden Saleh, seorang Muslin dan juga keturunan dari kiai sejak tahun 1600an, menyuarakan gema dari kata-kata yang belaku sepanjang masa yang memperlihatkan adanya pertemanan dan saling memahami antar budaya yang berbeda, yang ditulisnya di dalam buku harian dari teman-temannya orang Jerman, juga dalam tulisan tangan dalam bahasa Jawa kuno :

“Tetaplah menjadi dirimu sendiri ! Bertualanglah dalam jalan hidupmu dan cintailah sesama manusia ! Menjadi Kristen maupun Muslim, bagaimanapun pada suatu hari kelak, kita semua harus menghadap di depan singgasana Tuhan”.

 

 

 

 

Home
Nach oben

Copyright © 2010 Prince Raden Saleh Foundation - All rights reserved - Raden Saleh is a registered trademark of the Prince Raden Saleh Foundation. Any use without prior written permission is expressively forbidden. Images or portions thereof, or written content contained in this web site, may not be reproduced in any form without written consent. Alle Rechte vorbehalten - Raden Saleh ist eine registrierte Marke der Prince Raden Saleh Foundation. Sämtliches Bildmaterial, welches auf unseren Internetseiten veröffentlicht ist, darf weder kopiert, noch weiterverarbeitet, oder ohne unsere schriftliche Genehmigung an anderer Stelle veröffentlicht werden. - Yayasan Pangeran Raden Saleh - Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang - All rights reserved - Raden Saleh adalah merek dagang dari Yayasan Pangeran Raden Saleh. Dilarang keras setiap penggunaan tanpa izin tertulis. Gambar atau bagian darinya, atau konten yang ditulis dalam situs web ini, tidak boleh direproduksi dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis.